( Teruntuk Sahabatku, Anti )
Anakku semata wayang, Riri yang paling kucinta. Apa kabarmu pagi ini ?
Ibu di sini baik-baik saja. Ibu sedang menikmati
sunrise Gunung Bromo. Kamu tahu tidak
jam 4.00 dinihari ibu sudah mulai mendaki untuk sampai di tempat ini, agar
dapat melihat detik-detik awal munculnya matahari terbit. Indah sekali, Riri.
Sayang ibu bukan seorang penyair yang dapat menuliskan keindahan itu lewat
kata-kata. Suatu hari nanti kamu harus datang ke sini untuk menyaksikannya.
Riri, ibu ingin kamu tahu
betapa ibu sangat menyayangimu. Seperti ibu-ibu lain, ibu juga ingin
anak ibu mendapatkan apa pun yang
terbaik untukmu. Bila saat ini ibu jauh darimu itu hanya karena ibu sedang
membutuhkan waktu. Ibu perlu udara segar agar dapat berpikir jernih. Ibu ingin
suasana baru untuk memperluas cara pandang ibu. Riri, ibu pikir kamu sudah
cukup besar untuk mengerti maksud ibu.
Selama beberapa hari ke
depan jalanilah hari-harimu seperti biasa. Tetap ceria dan penuh semangat.
Hadirkan ibu di dalam hatimu . Setiap pagi,
seperti biasa pula, akan ibu kirimkan doa untukmu.
Riri, jangan pernah marah
pada ayahmu. Mungkin kita berdualah , terutama ibu, yang harus memahaminya. Karena,
ayahmu sudah berusaha menjadi
ayah yang baik untukmu, menjadi suami yang baik untuk ibu. Kita
sebenarnya keluarga yang bahagia, dan akan terus menjadi keluarga yang berbahagia. Kita hanya perlu kekuatan
lebih untuk menjalani semua ini. Kita hanya membutuhkan rasa saling menghargai wilayah pribadi masing-masing lebih dari
sebelumnya.
Anakku, ibu ingin kita
bertiga selalu bersama. Karena itu, tetaplah menjadi Riri yang santun, ceria, dan penuh
semangat hidup. Tak perlu cemas. Ibu baik-baik saja. Seperti yang ibu
katakan sebelumnya, ibu hanya perlu
waktu. Ibu akan segera pulang dan kita berkumpul kembali. Oh ya,
salam buat ayahmu.
Bromo, Pebruari 2012
Ibu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar